Saat Itu di Bandara

Share

Cerahnya pagi tidak membuatku terpengaruh. Hatiku yang biasanya selalu ceria saat menemui cerah sinar mentari pagi kini terasa berat saat aku akan melepaskan keterikatanku dengan zona nyamanku. Tapi, semua berubah jadi lebih ringan aku yakin itu karena hadirmu ibu.

Terpaku dirimu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tersenyum manis dengan bibir tertutup tanpa berkata-kata. Mungkin, senyuman ini yang membuat ayah jatuh cinta padamu. Aku tak tahu apa isi hatimu. Dari pelukanmu tampak kau tak mau aku jauh dan sedih akan keberangkatanku. Aku tahu kau lemah dalam menahan tangis, tapi entah mengapa saat itu kau tampak lebih kuat.

Meski ayah tidak ikut mengantarku, tapi doa darinya selalu menjadi tamengku. Entah apa yang orangtuaku bisikkan dalam sujud terakhir tahajudnya. Aku yakin kebahagiaan keluarga adalah topik utama dalam perbincangan orang tuaku dengan Tuhan.  

Setelah dan Sebelum 13 Juli

Aku sampai di Kota Malang “Cold City” setelah perjalanan panjang yang melelahkan, menakjubkan, serta penuh emosi. Seperti jalan-jalan dengan perasaan haru biru.

Setibanya di pondok suasana baru ini mengagetkanku. Membuatku mengubah banyak kebiasaan seperti menambah porsi ngaji yang biasanya hanya setengah jam, mengobrol dengan menggunakan bahasa Jawa, dan untuk pertama kalinya aku membaca novel sampai tamat.

Setelag ngaos yang ke sekian kalinya. Tibalah saat di mana cahaya-cahaya ilmu datang menerangiku. Cahaya yang berhasil mengubahku dan inshaAllah cahaya itu yang akan menuntun aku dan seluruh keluargaku ke surga.

Di suasana seperti ini juga aku pertama kalinya mengerti arti rindu yang sesungguhnya. Tepat tanggal 31 Juli 2020, di hari raya Idul Adha pertemuan pertamaku dengan orangtuaku via suara dan saling bertatapan melalui layar handphone. Tangis kedua orangtuaku pecah saat melihat aku tersenyum pada mereka sambil menahan tangis. Mungkin mereka bisa membaca pikiranku bahwa aku juga merindukan mereka. Aku teringat kata-kata dari Fiersa Besari, “Seseorang tidak pernah terlalu tua untuk menangis merindukan orang tua.” Dan pada akhirnya aku menangis terisak-isak. Aku menangis karena rindu. Tapi rindu ini tidak menyiksaku. Ini hanyalah bagian dari indahnya sepi dalam keramaian.

Beberapa hari selanjutnya aku masih merindu. Tapi aku tidak mau menjadi seperti Virzha yang “Menggenggam menahan segala kerinduan”. Aku hanya ingin menjadi seperti Hanin Dhiya yang “Berkawan dengan rindu”. Merindu menjadi keseharianku. Membaca buku ditemani rindu dan diselimuti dinginnya angin malam yang sepi.

Lambat laun kerinduanku mulai teralihkan dengan berbagai kegiatan di sekolah, di pondok, maupun di luar lingkungan sekolah dan pondok. Tetapi, pada dasarnya rinduku hanya teralihkan. Dan aku yakin rinduku tak akan hilang sampai aku menatap dan memeluk langsung kedua orang tuaku. Sesekali rindu itu kembali datang kepadaku. Dan setiap ia datang, rasanya ingin kubuat mesin teleportasi agar aku bisa pulang dan menikmati suasana ruang keluarga yang ceria, penuh canda, dan sangat sederhana. Tapi bagiku suasana itu begitu indah. Aku bahagia terlahir dari keluarga kecil yang sederhana ini. dan aku bersyukur memiliki orang tua yang sangat tangguh dan mengagumkan serta memiliki segala hal yang aku butuhkan ditiru. Seperti sifat sabar, tegas, dan lainnya. Serta yang paling kusukai dan sulit untuk kutiru adalah gaya dan cara berbicara orangtuaku. Itu membuatku kagum dan sangat menakjubkan bagiku. Semua yang dimiliki orangtuaku sangat berbeda dengan orangtua yang lain. Hal ini yang membuatku semakin mencintainya.

“Di akhir tulisan ini aku ingin bersyukur pada Allah atas semua yang telah diberi-Nya, terkhusus atas anugerah memiliki keluarga yang sangat mencintaiku dan kucintai.”

Malang, 4 November 2020
Regi Firzatullah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *