KELUH KESAHKU

Share

Pagi itu terasa air seni sudah dipucuk “ihh.. kamu ngompol….!!!” teriak teman sekamarku. Saat itu Aku pun langsung pergi ke kamar mandi dan ingin mensucikan tubuh atas panggilan alam ini. Sesaat sempat aku melihat ke jam dinding digital di halaman pukul 02.41. setelah buang air, juga kusempatkan untuk berwudhu, selesainya aku pun pergu ke kamar, kudengar banyak sekali teman-temanku yang ngorok, yang membuatku ingin tertawa. Aku pun langsung menggelar sajadah di kamarku untuk sholat tahajud.

            Kring…kring…kring…. saat aku terbangun akan bunyi alarm tersebut

”Ya Rabb… kenapa disaat aku memiliki waktu untuk bersamamu aku tertidur”. Keluh kesahku dihati.

Bel alarm itu membangunku serta membangunkan teman-teman santri-santri seperjuangan di pagi hari. Saat itu kulihat jam dinding menunjukkan pukul setegah empat tepat. Aku pun lansung pergi ke kamar mandi utuk mandi pagi dan langsung bersiap-siap untuk sholat subuh dan ngaos Abah. Sekitar selang waktu setengah jam adzan subuh pun berkumandang. Aku langsung berangkat ke masjid dan sholat subuh lalu ngaji  Abah yai.

Saat itu Abah yai ngaos tentang masalah-masalah syari’at sebagai manusia.

“Semisal Cah… sampean dino iki sumpek, wes seakan-akan terbebani oleh masalah-masalah, bahkan sampai-sampai timbul rasa dengki sampek amarahmu timbul nang awak dhewe sampean. Trus apa seng bakal sampean lakoni ben nggak koyok ngono?” dawuh nya Abah yai saat mau selesai ngaji.

“Hanya ada 2, yaitu: mati atau gendeng” jelasnya.

Aku pun sedikit kaget akan hal itu. “Lhoo kok bisa?”.

“Coba sampean golek i dhewe kenapa kok mati atau gila lah yang menjadi  jawabannya, wassalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh” tiba-tiba Abah yai mengakihiri ngaos nya.

 “Mungkin…..”. Pikiranku melayang-layang terus memikirkan akan nasehat dari abah yai.

Hari ini aku lagi sedikit sumpek karena uang sakuku dipinjam oleh temanku padahal sudah lama, tapi masih belum dikembalikan. Belum lagi saat ini aku belum beli peralatan mandi, cuci baju, dan lain-lain lagi.

Seusai ngaos Abah yai, aku pergi ke kamar dengan sedikit merasa bingung akan dawuh-dawuhnya Abah yai tadi. Sempat kutanyakan kepada teman sekamarku tetapi jawabannya kurang merasuk pada pikiranku, malah-malah aku dikerjain sama temen-temen. Akhirnya akupun sedikit mangkel kepada mereka.

Aduhh...kenapa kok selalu aja ada masalah yang selalu menghampiriku?” keluhku.

”ya…mungkin kamu aja yang baper-an” sahut salah satu temanku.

“kamu ini …,orang lagi sumpek malah di paido” ketusku

“kamu ini udah dikasih solusi, malah dimarahin, gini lhoo… biar kamu nggak sumpek gini coba kamu sowan ke ndalem Abah yai, biar nanti dikasih solusi oleh beliau”

“Apa nggak papa?”

“nggak papa kok”

“okelah,nanti aku coba untuk sowan ke Abah yai”

Akhirnya pun aku berencana untuk sowan ke ndalem Abah yai.

Saat pukul 09.15, aku berangkat ke ndalem Abah yai untuk sowan. Saat bertemu dengan beliau, beliau langsung memberikan solusi tanpa aku meminta solusi tersebut. seakan-akan beliau sudah tau maksud kedatangan ku

“Jika kamu masih ingin hidup, maka kamu wajib menjalankan syariat sebagai manusia, jika kamu tidak ingin menjalankan syariat sebagai manusia maka kamu tinggal pilih aja, mati atau gila. ” tutur beliau langsung kepadaku.

Aku kaget….

”Lhooh Abah Yai kok udah tau pertanyan yang mau aku sampaikan?”. batinku

Ngapunten… menawi kula mati, amal kula taseh dereng cekap damel nembel dosa-dosa kula. Menawi kula gendeng kula njeh uisin, sebab kula mboten kados manusia biasa.” Sanggahku

“lohh kamu ini gimana sih, masih ingin hidup tapi nggak mau menjalankan syari’at sebagai manusia?, kalo mati kan udah nggak mikirin dunia lagi kan? Gila pun sama, kamu nggak bakal mikirin dunia lagi”. Dawuh Abah Yai

Aku terdiam.

“Saya udah tau kok kalau kamu lagi sumpek mikirin masalah. yang tadi biarkan wes…, Sebelumya gini, kamu Tau nggak kenapa kamu merasa seperti menanggung beban yang sangat berat, seakan akan selalu aja masalah yang selalu datang. yang kemudian membuat kamu sumpek dan membuat timbulnya amarah nantinya? Pertama, kerena kamu selalu menganggap semua itu ada masalah, belum-belum kamu sudah menganggapnya masalah. Tak heran kalau kemudian menjadi ruwet dan menyebabkan rasa jenuh, sumpek bahkan amarah pada dirimu” lanjutnya Abah yai

“waduh biasanya kalau ada yang pertama pasti ada yang selanjutnya” batinku.

”Kedua, kamu tidak terima akan kejadian yang didatangkan oleh Allah pada mu. Kamu tidak meyakini sesuatu yang didatangkan oleh Allah kepadamu adalah yang terbaik untuk kamu. Kamu tak meyakini bahwa Allah pasti punya maksud dan tujuan tertentu yang tentunya baik buat kamu. Itu namanya kamu nggak ridha atas ketetapan-Nya. Kamu tidak ikhlas akan ketetapan-Nya, bagaimana kamu akan menjalaninya?, Kalau nggak ikhlas menjalaninya pasti yang muncul rasa sumpek, mangkel dan sejenisnya.  Ingatlah jikalau awal mulanya rasa susah, sumpek, kecewa, ragu-ragu,  stress dan lain sebagainya, itu semua berawal dari penolakan diri dan rasa takut. Intinya kamu tak menerima apa yang Allah datangkan kepadamu. Kamu tidak ridha akan ketetapan-Nya” jelasnya.

”ngapunten Abah yai…kula radhi mboten paham. Angsal nyuwun penjelasan ingkang lebih mudah Yai….”

“Coba kamu bayangkan orang-orang pengemis di pinggir jalan, mereka diberi banyak kekurangan. Tapi, apakah mereka sedih, atau sumpek saat memikirkan uang, ataupun harta?. Tidak, mereka selalu bahagia asalkan orang:orang yang ada disisihnya sehat semua. mereka selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Mereka selalu berikhtiar, berdo’a dan bertawakal kepada Allah. mereka selalu ridha apa yang diberikan Allah untuknya. Sekarang coba lihat dirimu., kamu disini sudah berkecukupan, bahkan lebih dari cukup. Kamu diberikan kelebihan yang orang lain tak punya. Tapi kenapa kamu diberi satu cobaan saja langsung mengeluh? Apakah itu semua tidak membuatmu bersyukur dan ikhlas akan ketetapan-Nya? Dan sudahkah apa-apa yang telah diberikan oleh Allah  kamu gunakan seperti yang Allah kehendaki?”

Aku terdiam kerongkonganku tercekat napasku terasa terhenti sejenak. aku merasa bersalah akan kelakuanku. Aku telah mendholimi diriku sendiri. Hari ini aku mendapatkan pengajaran tentang ikhas, ridho, bersyukur dan masih banyak lagi.

“Sudahlah jangan bengong terus, setelah ini kamu ambil wudhu lalu sholatlah, ,mintalah ampunan kepada Allah atas segala hilaf dan kesalahan-kesalahanmu. Berikhtiar dan berdo’alah lalu berserah dirilah kepada Allah”

Setelah sowan dari ndalem aku pun kembali ke kamarku dan menjalankan apa yang beliau katakan. aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.23 dan telah terdengar adzan dhuhur. Aku pun pergi mengambil wudhu dan langsung pergi ke masjid dan melakukan sholat jamaah dan berdoa kepada-Nya.

“Tanpa sadar, manusia telah mendholimi dirinya sendiri. Jadi seyogyanya manusia harus sabar, ridho akan takdir-Nya. Yaa Robb… ampunilah hamba ini yang selalu lalai akan kebesaran-Mu.”

M. Joni Agustino

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *